Jumat, 12 September 2008

"Jangan menunda hingga esok apa yang dapat Anda kerjakan hari ini."

Sebuah slogan yang wajib dijalankan setiap calon wirausaha : Praktek! Praktek! Praktek! Inilah sesuatu yang para pemimpin dalam semua bidang sepakat.

Setiap pekerjaan besar - entah itu menjalankann perusahaan, penjualan tingkat tinggi, dalam sains atau pemerintahan - memerlukan orang yang berfikir untuk bertindak. Para eksekutif utama yang mencari tokoh kunci, menuntut jawaban terhadap perrtanyaan :"Apakah ia akan melaksanakan pekerjaan tersebut?" "Apakah ia akan menuntaskannya?" "Apakah ia orang yang berinisiatif?" "Dapatkah ia memberikan hasil, atau apakah ia hanya pandai omong?"
Semua pertanyaan ini mempunyai satu tujuan : Mencari tahu apakah orang tersebut adalah orang yang suka bertindak ?.

Gagasan yang bagus saja tidak cukup. Gagasan sederhana yang dilaksanakan dan dikembangkan, adalah seratus persen lebih baik daripada gagasan hebat yang mati karena tidak ditindaklanjuti. Tidak ada yang datang dengan hanya memikirkannya.
Ingatlah. Semuanya yang kita miliki di dunia ini, dari satelit hingga pencakar langit hingga makanan bayi, hanyalah suatu ide yang dilaksanakan.

"Benjamin Franklin"

Alkisah, di pinggir sebuah kota, tinggal seorang seniman pematung yang sangat terkenal di seantero negeri. Hasil karyanya yang halus, indah, dan penuh penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu. Bahkan, di dalam istana kerajaan
hingga taman umum milik pemerintah pun, dihiasi dengan patung karya si seniman itu.

Suatu hari, datang seorang pemuda yang merasa berbakat memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat dan semangat si pemuda, dia diperbolehkan belajar padanya. Bahkan, ia juga diijinkan untuk tinggal di rumah paman si pematung.

Sejak hari itu, mulailah dia belajar dengan tekun, mengukur ketepatan bahan adonan semen, membuat rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, dan mengenali setiap tekstur sesuai bentuk dan jenis benda yang akan dibuat patung, dan berbagai kemampuan mematung lainnya.

Setelah belajar sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab, menurutnya, hasil patungnya belum bisa menyamai keindahan patung gurunya. Dia pun kemudian menganalisa dengan seksama, lantas memutuskan meminjam alat-alat yang biasa dipakai gurunya. Dia berpikir, rahasia kehebatan sang guru pasti di alat-alat yang dipergunakan.

"Guru, bolehkan saya meminjam alat-alat yang biasa Guru pakai untuk mematung? Saya ingin mencoba membuat patung dengan memakai alat-alat yang selalu dipakai guru agar hasilnya bisa menyamai patung buatan Guru." "Silakan pakai, kamu tahu di mana alat-alat itu berada kan? Ambil saja dan pakailah," jawab sang guru sambil tersenyum.

Selang beberapa hari, dengan wajah lesu si murid mendatangi gurunya dan berkata, "Guru, saya sudah berusaha dan berlatih dengan tekun sesuai petunjuk Guru, memakai alat-alat yang biasa dipakai Guru. Kenapa hasilnya tetap tidak sebagus patung yang Guru buat?"

"Anakku, gurumu ini belajar dan berlatih membuat patung selama puluhan tahun. Mengamati obyek benda, mencermati setiap gerak dan tekstur, kemudian berusaha menuangkannya ke dalam karya seni dengan segenap hati dan seluruh pikiran. Tidak terhitung berapa kali kegagalan yang telah dibuat, tapi tidak pernah pula berhenti mematung hingga hari ini. Bukan alat-alat bantu yang engkau pinjam itu yang kamu butuhkan untuk menjadi seorang pematung handal, tetapi jiwa seni dan semangat untuk menekuninya yang harus engkau punyai. Dengan begitu, lambat laun engkau akan terlatih dan menjadi pematung yang baik."

"Terima kasih Guru, saya berjanji akan terus berlatih, mohon Guru bersabar mengajari saya."

Pembaca yang berbahagia,
Untuk menciptakan sebuah maha karya, tidak cukup hanya mengandalkan talenta semata. Kita butuh proses belajar dan ketekunan berlatih bertahun-tahun. Bahkan, meski dibantu alat-alat secanggih apa pun, hasil yang didapat sebenarnya sangat tergantung pada tangan-tangan terampil dan terlatih yang menggerakkannya.

Demikian pula dalam kehidupan ini, jika ingin meraih prestasi yang gemilang, ada harga yang harus kita bayar! Apa pun bidang yang kita geluti, apapun talenta yang kita miliki, kita membutuhkan waktu, fokus dan kesungguhan hati dalam mewujudkannya hingga tercapai kesuksesan yang membanggakan!!!

(Andrie Wongso = Motivator Indonesia)

Senin, 08 September 2008

Ada dua sahabat Li & Zhang sedang berbincang-bincang di kedai minum. Tiba-tiba lewat seorang wanita cantik.

Lalu Zhang berucap : "Betapa cantik dan menggairahkan wanita itu."
Li : "Jangan kurang ajar, dia tunangan Da Niu."

Zhang : "Da Niu? Mengapa orang miskin jelek itu mendapatkan wanita secantik dia sebagai istrinya? Bunga yang indah dalam kubangan kerbau, betapa tidak serasinya pasangan itu!"

Li : "Kamu tidak boleh bicara seperti itu Kakak Zhang. Da Niu telah menjadi teman kita sejak kanak-kanak."

Setelah wanita itu pergi, kedua sahabat itu melanjutkan makannya. Beberapa hari kemudian, mereka bertemu lagi.

Zhang : "Buru-buru sekali, mau kemana Kakak Li?
Li : "Saya dengar Da Niu terjatuh dan kakinya patah. Mari kita tengok dia."

Zhang : "Benarkah? Ha..ha..ha.. Sekarang dia tidak bisa menikah."

Li : "Saya tidak pernah mengharapkan kamu bicara sekasar itu. Bagaimana orang lain menganggapmu sebagai teman?"

Zhang : "Saya telah kehilangan teman terakhir."

Pesan Moral:
Jangan iri jika orang lain mendapatkan keberuntungan.
Perasaan ini dapat merenggut sifat-sifat baik.
Jangan merasa senang dengan kemalangan orang lain.
Mental seperti itu akan membuat Anda kehilangan kebaikan hati Anda yang alami.

(Sumber: "The Chinese Code of Success, Prinsip Keseimbangan Hidup
Sukses")

Minggu, 07 September 2008

Dengan perasaan bangga, saya dan Karen dijadikan "Tokoh Orangtua" untuk sehari di kelas taman kanak-kanak Michael, anak lelaki kami. Ia mengajak kami berkeliling kelas, berkenalan dengan semua temannya. Kami ikut dalam aktivitas mereka, memotong dan menggunting lalu merekatkan, begitu pula menjahit; lumayan lama juga kami ikut bermain-main di bak pasir. Bukan main ramainya!

"Ayo, sekarang duduk membentuk lingkaran!" seru ibu guru. "Kita akan bercerita."
Karena tidak ingin kelihatan aneh di mata anak-anak, saya dan Karen ikut "membentuk lingkaran" bersama teman-teman baru kami. Setelah selesai menuturkan cerita tentang "besar", ibu guru bertanya kepada anak-anak yang asyik mendengarkan selama ia bercerita, "Apa yang membuat kalian merasa besar?"

"Serangga membuat aku merasa besar," teriak salah seorang anak.
"Semut," seru anak lainnya.
"Nyamuk," kata seorang anak lagi.

Ibu guru agak kewalahan menghadapi anak-anak yang berebutan menjawab. Untuk mengatasinya, ia memanggil anak-anak yang mengacungkan tangan. Sambil menunjuk seoran ganak perempuan, ia bertanya, "Ya, sayang, apa yang membuatmu merasa besar?"

"Ibuku," begitulah jawab anak itu.
"Bagaimana ibumu membuatmu merasa besar?" tanya bu guru dengan heran.
"Gampang saja," kata anak perempuan itu. "Bila ia memelukku dan bilang aku sayang padamu, Jessica!"

(Barry Spilchuk, "A Cup of Chicken Soup for the Soul", Jack Canfield, Mark Victor Hansen and Barry Spilchuk)
Orang sering mencampuradukkan hakikat diri dengan banyaknya uang yang dihasilkannya. Lazimlah anggapan orang kaya punya peluang lebih besar daripada orang miskin. Padahal apakah dia berpenghasilan US$1 juta setahun atau hanya US$15.000 setahun, setiap orang masih berkemampuan meraih tingkat keberlimpahan tertentu dalam hidupnya

Bisa dicontohkan saat Nazi menguasai Jerman, banyak sekali warga masyarakat yang kaya raya dirampas-tumpas kehidupannya dalam arti sesungguhnya. Mereka yang hartanya disita ini kemudian dibawa dan dipastikan nasibnya di kamp-kamp konsentrasi. Namun dalam tekanan hampir niscaya berujung maut itu bisa dijumpai sosok-sosok inspirator istimewa.

Sebut Viktor E. Frankle atau Anne Frank yang meskipun berada dalam situasi kemiskinan terburuk karena tak ada sesuatu pun yang tertinggal, kini mereka dianggap punya kehidupan berkelimpahan. Dalam Man's Search for Meaning, Frankle mengatakan bahwa satu-satunya milik pribadi yang tak akan pernah dapat diambil adalah sikap.

"Kami yang hidup di kamp-kamp konsentrasi bisa mengingat sejumlah penghuni kamp saat berjalan menuju ruang eksekusi berusaha membantu orang lain, memberikan potongan terakhir rotinya. Mungkin potongan itu tak berarti, tapi mereka mereka memberi cukup bukti bahwa apapun bisa dirampas dari seorang manusia, kecuali satu: `kemerdekaan terakhirnya' untuk memilih satu sikap dalam situasi penuh keterbatasan, memilihcaranya sendiri.

Frankle yang seorang psikolog, mengadopsi satu sikap kreatif yang membantunya bertahan dalam neraka dan mimpi buruk kehidupan di satu kamp konsentrasi. Dia bisa mewujudkan keberlimpahan internal dirinya dengan menjalankan haknya melakukan itu. Sikap sama memandunya meniti setapak untuk mencapai dan hidup dalam keberlimpahan begitu keluar kamp konsentrasi.

Kita Saluran Keberlimpahan Saat berpikir tentang kesejahteraan (prosperity), pengertian bahwa sumber dayalah yang mengalir menuju diri seseorang akan sangat membantu pemahaman. Kita hanya semacam saluran bagi keberlimpahan. Begitu hal ini disadari, selanjutnya kita meulai mengidentifikasi fakta dan kenyataan bahwa kita juga yang menentukan bagaimana mengalirkan sumber daya ini.

Frankle menegaskan adanya pembedaan ini saat dia dikurung di sejumlah kamp konsentrasi, saat satu per satu barang miliknya dilolosi dari tubuh, termasuk sepatunya. Satu-satunya yang tertinggal dalam dirinya adalah kemampuan untuk meyakini dan memegang teguh gagasan dia masih orang yang baik, meskipun semua telah dirampas.

Inilah pembedaan penting yang harus dibuat karena dengan begitu kini punya atau tidak punya uang tidak lagi merupakan bagian dari pertanyaan tentang harga diri (self-worth). Uang tidak menentukan siapa Anda karena hanya satu merupakan satu sumber daya. Yang sungguh penting adalah punya satu rasa diri (inner sense of self). Uang hanya satu unsur eksternal.

Begitu seseorang berhenti menyamakan harga dirinya dengan uang, pintu-pintu kemungkinan pun berayun membuka baginya karena mereka mau mencoba lebih banyak hal. Sejak mereka punya perasaan yang lebih baik tentang dirinya, mereka menjadi lebih berani dan membuka pikiran dan wawasannya untuk mencoba sesuatu dengan cara yang sama sekali beda.

Jadi, dalam istilah para pakar Neuro Linguistic Programming (NLP), penentu sukses tidaknya usaha yang dilakukan hanya soal berkata pada diri sendiri, "Inilah hasil yang kuinginkan dan ada sejumlah cara tersedia yang bisa dilakukan untuk mencapai. Sejumlah kemungkinan. Jika cara yang satu gagal, kemudian aku akan mencoba cara yang lain."

Dan bila hasil masih belum sesuai yang diharapkan, itu hanya merupakan umpan balik bahwa Anda perlu mencoba cara yang lain lagi.Hal ini tak berarti Anda gagal atau pribadi yang menyedihkan. Itu hanya berarti ada satu atau lebih cara di luar sana yang akhirnya akan berfungsi dan itu berada di luar diri Anda. Anda masih orang yang sama di dalam diri.

Yang Terpenting: Sikap Mengukur harga diri dari seberapa banyak duit yang dimiliki seseorang bisa sangat merusak. Bisa dicontohkan dari cerita seorang wanita yang punya kekayaan senilai US$17 juta yang dirancang baginya dalam satu rekening dana perwalian oleh orangtuanya. Rekening itu akan menghasilkan bunga sedikitnya US$800.000 per tahun selama dia masih hidup.

Wanita ini menemukan identitas dan harga dirinya dalam gaya hidup (lifestyle) yang dijalani sehari-hari dan seberapa banyak yang dimilikinya. Dalam satu kesempatan jalan-jalan cuci mata di satu department store di kotanya, dia membelanjakan US$18.000 di bagian pakaian dalam.

Hampir semua yang dilakukannya-khususnya saat membelanjakan uang berjumlah besar-merupakan hasil membandingkan diri dengan kakaknya. Saudarinya ini juga dalam situasi sama: punya rekening perwalian yang memberi hasil banyak dari bunganya saja. Namun sang kakak ini tak pernah menilai uang sebagai salah satu aspek yang menentukan identitasnya.

Sang kakak tak pernah menjadikan seberapa banyak kekayaan sebagai penentu harga dirinya. Baginya semua yang dinikmati sekarang akan berkurang dan bahkan hilang bila ada masalah. Dia menikah dan memulai sejumlah bisnis bersama suaminya. Mereka akhirnya menjadi sangat sukses dengan usaha sendiri dan setelah bertahun-tahun penghasilan dari dana perwalian relatif kecil dibandingkan penghasilan dari bisnisnya.

Dalam kurun waktu sama, wanita yang mendasarkan identitas dan harga dirinya pada apa yang dimilikinya menariknya terus membelanjakan uang dalam jumlah besar untuk bisa mengimbangi kakaknya. Wanita itu akhirnya bangkrut karena hanya mengandalkan dari satu sumber daya. Inti cerita ekstrim ini menegaskan: sikaplah yang menentukan orang akan terus dalam keberlimpahan atau bangkrut.

Sumber: Keberlimpahan adalah Sikap Hidup oleh Rab A. Broto.

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga.

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak sambil berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan,"Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku, ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?" Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati.

Renungan: Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

Oleh: Oliver N

SUKSES ITU BIKIN "PEDE"

Sukses itu membuat kita percaya diri.
LOWONGAN untuk menjadi pengusaha, saya kira sampai kapan pun masih terbuka luas, tidak terbatas. Artinya, kapan saja, sekarang atau besok, kita bisa saja menjadi pengusaha. Bahkan, kalau kita ingin cepat menjadi pengusaha, bisa juga kita lakukan hari ini. Misalnya, cukup kita datang ke notaris, buat CV atau PT, maka jadilah kita pengusaha sekaligus direktur di perusahaan kita sendiri. Dan, tak perlu ada upacara pengangkatan segala, sebab siapa lagi yang mengangkat kita kalau bukan kita sendiri.

Namun, coba saja kalau kita bekerja pada perusahaan milik orang lain, maka untuk bisa menjadi direktur membutuhkan waktu lama. Ini pun masih sangat tergantung pada keputusan atasan kita. Padahal, menurut saya, untuk menjadi pengusaha sekaligus direktur, tidak harus membutuhkan pengalaman kerja. Karena, pada dasarnya, lowongan kita untuk menjadi pengusaha itu tidak terbatas. Maka, semestinya kita harus "jadi" dulu. Itu setidaknya, dengan kita sudah menjadi direktur di perusahaan kita sendiri, merupakan langkah awal memulai bisnis. Dan, ternyata membuat bisnis itu lebih mudah daripada kita mencari pekerjaan. Sehingga, dari "sukses" itulah menjadikan diri kita tumbuh rasa percaya diri. Dan, setelah kita percaya diri, maka kita akan bisa melakukan sesuatu.

Banyak contoh di masyarakat, bahwa seseorang mendapatkan jabatan, baik itu di pemerintahan ataupun swasta, padahal dia tidak punya pengalaman sebelumnya. Dan ternyata, dia bisa juga melaksanakan pekerjaan itu dengan baik. Artinya. kepercayaan diri atau "pede" kita bertambah saat kita dapat kesuksesan. Meski, katakanlah bisnis yang kita dirikan itu hanya meraih sukses-sukses kecil. Namun, itu buktikanlah suatu masalah. Justru, hal ini akan membuat kita lebih termotivasi untuk bisa meraih sukses bisnis yang lebih besar.

Saya kira, kita memang sebaiknya jangan mengabaikan sukses-sukses kecil itu. Percayalah, bahwa sesungguhnya dari sukses-sukses kecil itu akan menjadi kesuksesan yang luar biasa pada bisnis kita dimasa depan.

Memang, bagi kita yang terbiasa berpikir linier, pasti akan mengatakan, bahwa percaya diri dulu baru kita sukses. Kalau kita setuju dengan pendapat, percaya diri dulu baru seseorang meraih sukses, lantas kapan kita bisa menjadi pengusaha?

SUKSES ITU GURU YANG JELEK

Kesukesan akan menjerumuskan kita, kalau kita terlalu bangga.

ROBERT T. Kiyosaki dalam bukunya "Cash Flow Quadrant" berpendapat, bahwa sebenarnya sukses itu guru yang jelek. Tapi itu berlaku untuk diri kita sendiri. Artinya, sebagai entrepreneur, kita memang sebaiknya tidak berguru pada kesuksesan kita sendiri. Sebab, hal itu akan membuat kita menjadi kurang bersemangat, menjadi tidak kreatif, menjadikan kita lengah atau sombong, menjadikan kita lupa diri, bahkan tak menutup kemungkinan kesuksesan yang kita raih akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Sukses itu, menurut saya, bukan berarti "waktunya untuk menikmati".

Memang, kesuksesan kita itu bisa menjerumuskan kita. Apalagi, kalau kita terlalu membanggakan kesuksesan itu, akan membuat kita lupa diri. Oleh karena itu, agar kesuksesan ini, tidak menjadi bumerang bagi kita sendiri, maka kita memang harus pandai-pandai mengelola kesuksesan itu. Namun, tentu saja, orang lain bisa saja belajar dari kesuksesan kita, itu boleh, bahkan, itu bisa menjadikan kesuksesan bisnis seseorang. Sebab, pada dasarnya belajar dari kesuksesan orang lain itu sah-sah saja. Pendeknya, kalau seseorang belajar kesuksesan orang lain, itu, memang bisa menjadi guru yang baik. Meski kita sebetulnya juga bisa belajar banyak pada orang yang gagal.

Dalam konteks inilah, menurut saya, agar bisnis kita tetap langgeng bahkan bisa berkembang lebih baik di masa mendatang, adakalanya kita harus menyadari hal ini. Atau lebih tepatnya, sebagai entrepreneur seharusnya lebih menilai, bahwa kegagalan itu sebetulnya sebagai pelajaran yang terbaik. Oleh karena itulah, saya kira kita sebaiknya janganlah terlalu takut dengan kegagalan. Kita belajar paling banyak tentang diri kita ketika kita gagal, jadi jangan takut gagal. Sebab, kegagalan itu sebenarnya adalah proses kita untuk menjadi sukses. Saya yakin, yang namanya entrepreneur itu sebetulnya tidak bisa sukses tanpa mengalami kegagalan.

Maka, pada saat kita ingin memulai bisnis atau disaat bisnis kita mulai berkembang, tapi kemudian tiba-tiba bangkrut atau mengalami kegagalan, saya kira hal itu janganlah membuat kita patah semangat. Justru, disaat itulah jiwa entrepreneur kita harus bangkit kembali. Sebab, menurut pengalaman saya dari rekan pengusaha lainnya, mereka baru sukses, setelah mereka pemah mengalami kegagalan paling tidak sampai tujuh kali. Kalau kita baru gagal dua atau tiga kali, saya kira itu wajar-wajar saja bagi seorang entrepreneur. Mestinya, entrepreneur tidak akan pemah mendapatkan pelajaran tanpa melakukan langkah-langkah yang berarti. Baik itu langkah yang gagal maupun yang sukses. Langkah-langkahnya dimulai dari langkah kecil sampai langkah besar. Dengan perkataan lain, saya mengatakan, sebuah perjalanan 1000 km itu sebenarnya dimulai dari langkah kecil. Kalau kita tidak berani memulai atau mengembangkan bisnis, kapan kita akan punya bisnis, atau kapan bisnis kita berkembang. Saya menemukan kata-kata yang menarik buat kita renungkan bersama yaitu, "Memulai ini mengalahkan tidak memulai." Artinya, orang yang berani memulai atau mengembangkan bisnis, itu lebih baik, daripada orang yang sama sekali tidak berani memulai atau mengembangkan bisnis.

REJEKI ITU BISA DIRENCANAKAN

Rejeki itu akan datang, sesuai pengambilan resiko bisnis kita

REJEKI itu sebenarnya sudah ada yang mengatur-Nya. Saya kira, itu memang benar. Dan, sebagian besar kita berpendapat demikian. Karena sejak lahir setiap orang itu membawa rejeki sendiri-sendiri. Tapi, apakah kita itu bisa meningkatkan rejeki kita sendiri? Dan, apakah kita tak bisa merencanakannya? Saya berpendapat, meski rejeki itu sudah ada yang mengatur-Nya, namun kita harus tetap aktif merencanakannya. Tanpa direncanakan, rejeki itu akan sulit kita raih. Saya kira, rejeki itu membutuhkan peluang untuk mendatanginya.

Menurut saya, mana mungkin rejeki itu datang kalau setiap harinya kita tak punya aktivitas apa-apa. Hanya pasrah saja. Dan, kita terlalu yakin, bahwa rejeki itu tak perlu dikejar, pasti akan datang sendiri. Saya tak sependapat dengan prinsip ini. Sebab, bagaimana pun juga kalau pada diri kita tak ada kegairahan bekerja, dan hanya selalu memimpikan rejeki itu datang, maka rejeki itu pun akan sulit datang atau justru malah menjauh. Tapi sebaliknya, jika kita tekun bekerja, dan kreatif berwirausaha, saya yakin, pasti rejeki akan datang. Bisnis kita pun akan lebih cepat berkembang.

Apalagi, kalau kita berani memilih profesi seperti pengusaha, dokter, notaris, pengacara, pelukis, seniman dan lain-lain. Profesi ini saya lihat sangat berpeluang mendatangkan rejeki yang relatif besar atau tidak linier. Sebab, profesi ini berbeda dengan orang yang digaji atau seperti karyawan. Artinya, jika saat ini kita misalnya, sedang menekuni dunia usaha atau sebagai pengusaha, maka jelas sangat memungkinkan sekali bagi kita untuk mendatangkan rejeki yang relalif besar. Sementara, kalau saja kita sekarang ini bekerja ikut orang lain atau setiap bulannya digaji tetap, maka jelas peluang akan datangnya rejeki yang relatif besar, menjadi kecil. Oleh karena itu, rejeki besar akan datangnya mencari tempat yang pas, dan ini bisa kita rencanakan. Tinggal, kita berani atau tidak. Bicara soal rejeki, saya jadi teringat pengalaman rekan saya. Dia seorang notaris. Saya lihat, dalam menjalankan profesinya, dia hanya menggunakan motor. Lantas, ganti mobil. Itu pun mobil lama. Namun, ketika saya sarankan agar dia "berani" ambil mobil baru secara kredit, dia terkejut. Apalagi, ketika saya sarankan mobil lamanya dijual saja. untuk bayar uang muka.

Setiap bulannya' kan harus bayar angsuran? Itu pertanyaannya. Saya jawab, "Nah itulah rejeki akan mengikuti rencana anda. Kalau anda menggunakan mobil bagus pasti klien anda lebih percaya. Karena performance atau penampilan dibutuhkan dalam bisnis anda. Apalagi anda mau bekerja keras dan kreatif menjaring klien, saya yakin anda pasti mampu membayar angsurannya." Rupanya, dia ikuti saran saya. Apa yang terjadi selanjutnya? Rejeki notaris itu ternyata mengalir deras. Kliennya akan bertambah. Selain bisa membayar angsuran, dia pun masih punya kelebihan rejeki itu. Dari, kepercayaan dirinya akan profesinya semakin mantap.
Kejadian ini, di antaranya yang membuat saya percaya, bahwa rejeki itu sesungguhnya akan datang mengikuti rencana hutang kita. Rejeki itu juga akan datang sesuai pengambilan risiko bisnis kita. Sehingga, pada saat kita ambil risiko bisnis yang kecil, rejeki yang mengalir pun juga kecil. Sebaliknya, bila kita berani ambil risiko yang besar, maka rejeki yang mengalir pun juga besar.

Sumber : buku "Jangan Mau Seumur Hidup Jadi orang gajian"