Jengkol adalah laukan andalan bagi orang miskin, ia mampu membangkitkan selera makan. Bersama sambal dan iklan asin, jengkol menjadi pendamping nasi yang andal di pedesaan. Di kota jengkol direndang, disemur atau digoreng dengan sedikit garam memberi cita rasa yang khas dan menimbulkan ketagihan.Namun, jengkol dengan bau khasnya juga dapat mendatangkan malapetaka. Dalam soal bau, mungkin hanya petai yang bisa mengalahkan jengkol. Bau jengkol relatif lebih ”lembut”, tidak semenyengat petai. Bau jengkol berasal dari asam amino sistein yang mengandung sulfur.
Ketika terdegradasi atau terpecah-pecah menjadi komponen yang lebih kecil, asam amino itu akan menghasilkan berbagai komponent flavour yang sangat bau. Sebagaimana layaknya sulfur atau belerang, bau jengkol agak sulit hilang.
Asam jengkolat yang terkandung dalam jengkol dapat menimbulkan gangguan saluran kencing yang disebut jengkolan (”jejengkoleun”).
Kristal-kristal (garam) jengkolat dapat mengendap di ginjal. Bentuk kristalnya tajam-tajam seperti pecahan beling, sehingga nyeri akibat jengkolan sungguh tak terkitakan.
Seseorang pernah menceritakan betapa sakitnya mengalami keracunan jengkol, Setelah makan siang dengan sepiring jengkol, dia meraung kesakitab, kringatnya bercucuran, mukanya pucat pasi, sambil terbungkuk – bungkuk menahan sakit ia masuk kamar kecil mencoba mengeluarkan kencing yang tidak juga bisa keluar. Dokter yang merawatnya bilang, bila terlalu parah biasanya air kencing jadi berwarna putih susu dan ginjal akan mengalami kerusakan.
Orang kampung telah memiliki kearifan dalam menangani jengkolan. Mereka tahu bagaimana menaklikan racun jengkol, yaitu dengan cara merendam jengkol dalam abu gosok selama tiga hari atau dipendam dalam tanah hingga berkecambah. Sebelum dimasak. Hasilnya disebut jengkol ”sepi” yang sudah tidak beracun lagi. Selain itu orang kampung punya pantangan makan asam-asam setelah makan jengkol. Kristal-kristal yang menyebabkan penyumbatan pada saluran kencing ternyata terbentuk dalam suasana asam.
Tabel Gizi Jengkol dan Petai per 100g
| Gizi | Jengkol | Petai |
| Energi (Kalori) Protein (g) Lemak (g) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Besi (mg) Vitamin C (mg) | 20 0.1 25 12 10 95 1.2 | 3.5 21 0.7 142 42.0 115 36 |
Dari kandungan gizinya (lihat tabel), Jengkol tampak lebih inferior dibandingkan petai. Kandungan proteinnya relatif kecil, yaitu hanya 3,5% (setara dengan susu) Sebagai sesama fa,ili kacang-kacangan, Petai mengandung protein tiga kali lipatnya. Demikian pula gizi lainnya seperti kalsium, fosfor, besi, dan vitamin C.Kandungan gizi yang rendah tidak berarti jengkol kurang bermanfaat. Dalam hal manfaat untuk menambah selera makan, harus diakui jengkol mengalahkan lalap-lalap yang lain. Hanya saja, makan jengkol harus tetap berpedoman : jangan berlebihan. Sebab berlebihan makan jengkol akan menyusahkan diri sendiri dan juga orang lain.
Bau petai lebih menyengat ketika dimakan. Petai selain sebagai lalap, sebenarnya juga mempunyai fungsi kesehatan. Yang selama ini dipercaya adalah bahwa petai sangat bermanfaat untuk kesehatan ginjal, dan memiliki kemampuan membersihkan sistem saluran urine. Bahkan ada yang percaya bahwa makan petai dapat menstabilkan gula darah.
Wanita-wanita yang sering mengalami masalah terkait dengan PMS (Pre Menstrual Syndrome), dianjurkan untuk makan petai sehingga ketika masa haid datang tidak lagi uring-uringan dan suasana hati hati menjadi nyaman. Kalau ditinjau dari unsur kalsium yang relatif tinggi di dalam petai, maka sangat mungkin bahwa kalsium inilah yang membantu wanita disaat haid untuk lebih tenang. Namun, vitamin B6 yang terkandung di dalamnya juga bisa berperan memperbaiki mood seseorang menjelang haid. Dalam budaya oriental, petai dikatakan sebagai cooling product.
Orang-orang yang depresi, konon setelah makan petai mereka merasa lebih enak badan dan pikirannya. Petai diketahui mengandung tryptophan, yakni asam amino yang di dalam tubuh kemudian akan menghasilkan serotonin. Serotonin bertanggungjawab terhadap munculnya perasaan rileks dan membuat hati merasa bahagia.
Selama ini makanan snack yang disarankan untuk kondisi stress adalah cokelat, karena rasa dan tekstur cokelat yang khas membuat makanan ini sangat disukai orang. Disamping itu, cokelat juga mengandung unsur dopamine Precursor yang juga berperan dalam memenangkan suasana hati.
Seandainya petai bisa lebih disukai banyak orang, jangan-jangan kesukaan orang akan cokelat bergeser ke petai nantinya. Siapa tahu? Ketika orang stress, maka yang terjadi adalah meningkatnya laju metabolik tubuh. Hal ini akan menguras protasium di dalam tubuh. Petai sebagai makanan kaya protasium , tentu akan berdampak positif mengatasi defisiensi potasium tadi.
Potasium adalah mineral penting yang dapat membantu menormalkan denyut jantung, membantu mengirimkan oksigen ke otak, dan melakukan fungsi pengaturan kesehatan imbangan air tubuh. Melihat fungsi potasium yang sangat penting ini, maka konsumsi petai secara reguler, tetapi tidak berlebihan dapat menjadi pilihan hidup sehat.
Potasium juga dikenal sebagai mineral yang bermanfaat untuk mengendalikan hipertensi. Sebagaimana diketahui, hipertensi sering terkait dengan tingginya natrium. Asupan potasium yang tinggi mungkin akan menggeser keberadaan natrium di dalam tubuh sehingga tekanan darah dapat dikendalikan.
Potasium ini juga dapat membuat pupil mata dalam kondisi terjaga. Jadi kalau ada siswa sekolah sarapan petai, mungkin dikelas dia tidak akan mudah tertidur dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Apakah Anda akan makan dengan lalap petai atau jengkol ? Semuanya tergantung selera. Namun, dengan memperhatikan uraian diatas, kiranya dapat dipahami bahwa sesungguhnya petai lebih mempunya khasiat gizi dan kesehatan dibandingkan jengkol.
Dibalik banyaknya khasiat petai untuk kesehatan, tapi sesungguhnya masih diperlukan riset-riset yang mendalam untuk membuktikan hal tersebut karena sebagian khasiat sebagaimana disebutkan di atas mungkin masih bersifat subjektif.
Sumber : SINDO
Oleh :
Dr. Nani Sufiani – Staf Deptan, Ciawi – Bogor
Prof. Ali Khomsan - Dosen IPB Bogor.


01.07
Dede


