Selasa, 07 Oktober 2008

Malam pertama ..... (sengaja diberi tanda petik, berarti bukan arti yang sesungguhnya, artinya bukan malam pertama bagi sang raja & permaisuri sebagai pengantin baru), yang penuh dengan kenikmatan duniawi, bermesraan dengan suami / istri baru dalam peraduan Adam & Hawa.

Justru .... malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut.
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara.

Hari itu, mempelai sangat dimanjakan, mandinya pun harus dimandikan, seluruh badan kita terbuka, tak sehelaipun benang melekat pada tubuh kita yang menutupinya.


Tak ada rasa sedikitpun malu seluruh badan digosok dibersihkan.
Setelah dimandikan ..... kita pun akan dipakaikan gaun yang cantik, yang semua orang jarang memakainya, tetapi merknya cukup terkenal, bahkan dikenal di seluruh dunia, yaitu Kafan, wewangian ditaburkan ke baju kita, bagian kepala, badan dan kaki diikatkan, tataplah ... tataplah .... itulah wajah kita.

Keranda pelaminan, langsung dipersiapkan, pengantin bersanding sendirian tanpa teman ... mempelai diarak keliling kampung bertandukan tetangga menuju istana keabadian sebagai symbol asal usul kita diiringi langkah gontak oleh seluruh keluarga serta rasa haru para handai taulan.

Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus, akad nikahnya bacaan talkin,berwalikan liang lahat,disaksikan nisan-nisan .... yang telah tiba terlebih dahulu, siraman air mawar merupakan pengantar akhir kerinduan.

Dan akhirnya tibalah saatnya masa pengantin, menunggu dan ditinggal sendirian, untuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan.

Malam pertama bersama kekasih, ditemani rayap-rayap dan cacing tanah dikamar bertilamkan tanah, dan ketika 7 langkah sanak saudara telah pergi meninggalkan kita, kita pun ditanyai oleh sang Malaikat ....

Kitapun tak tahu apakah akan memperoleh nikmat kubur ¦ ataukah kita akan memperoleh siksa kubur,kita tak tahu dan tak ada seorangpun yang tahu.

Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan ¦.. padahal nikmatkah atau siksakah yang akan kita terima ? Kita sungkan sekali meneteskan air mata, seolah tangis atas dosa dan khilaf adalah barang berharga yang sangat mahal sekali.

Dan Dia kekasih itu...... Menetapkanmu ke Syurga ..... atau melemparkanmu ke Neraka ¦.. tentunya kita berharap menjadi penghuni Syurga, akan tetapi sudah pantaskah sikap kita ini untuk disebut calon penghuni Syurga ?

Sahabat ... mohon maaf ... jika malam itu aku tak menemanimu ..... bukan aku tak setia, bukan aku berkhianat ..... tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan.

Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga, aku berdoÃ
Semoga kau selalu bisa Khusnul Khotimah sehingga menjadi ahli syurga
Amin ya robbal alamin.

Pesan puisi ini, disampaikan untuk bahan renungan kita, agar kita selalu mengingat mati

Sumber : Buletin tagged.com pengirim : Yani Trisna

1 komentar:

Muhamad Arifin mengatakan...

ya 4JJl aku menjadi takut untuk sendiri, postingan ini memberikan inspirasi dan membuat apa yang dicari di dunia terlupakan sesaat, dan teringat dengan apa semua itu harus di jalani dengan baik dalam kehidupan ini